GERAKAN MILENIAL SANGTORAYAN GELAR DISKUSI VIRTUAL TERKAIT NEW NORMAL PASCA PANDEMI COVID-19

Gerakan Milenial SangTorayaan (GMS) melakukan diskusi online (Senin, 18/05) dengan narasumber lima milenial Toraya yang sedang melakukan studi lanjut S2 dengan keahliannya masing-masing. Diskusi dipimpin oleh moderator Rikky Rundupadang (S2 Manajemen, Telkom University).

Kelima narasumber tersebut yakni Alan Christian Singkali (S2 Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga), Firmes Nosioktavian (S2 Kebijakan Publik, Manajemen SDM Aparatur, STIA LAN Makassar), Yulita Sirinti PongTambing (S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia), Armin Beni Pasapan (S2 Adm. Publik, Konsentrasi Kebijakan Publik, Universitas Mulawarman), dan Lisarama Matandung (S2 Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan, Institut Pertanian Bogor).

Brikken Linde Bonting dalam sambutannya sebagai Koordinator GMS menyatakan bahwa kegiatan diskusi ini bertujuan untuk menyerap aspirasi dari milenial toraya dengan berbagai disiplin ilmu.

“Kita sebagai generasi muda Toraya khususnya kalangan milenial perlu memberikan gagasan apa yang terbaik bagi Indonesia, dan khususnya Toraya” ungkap bung Brikken.

Salah satu narasumber yakni Firmes mengungkapkan bahwa Covid-19 telah membawa masyarakat Indonesia ke salah satu sisi kehidupan dimasa yang akan datang. Salah satu sisi itu adalah kurangnya interaksi langsung antar manusia akibat pemanfaatan atau pengunaan teknologi.

“Indonesia dalam arti umum dan Toraja dlm arti khusus harus siap menghadapi sisi lain itu. Mulai dari mempersiapkan SDM, infrastruktur sampai pada regulasi yang berbasis teknologi.” lanjut Firmes Noktavian

Bung Firmes juga menjelaskan bahwa dalam konteks Toraja ada beberapa hal yang menjadi perhatian di antaranya pengembangan penggunaan teknologi dalam pemanfaatan lembang-lembang (desa), kemudahan kepengiurusan e-ktp, dan pembuatan aplikasi terintegrasi pada dinas pariwisata.

“Sebagai contoh yang dapat dilihat pada umumnya seperti digunakan oleh BKN (Badan Kepegawaian Negara) telah menggunakan tanda tangan digital dan system penerimaan CPNS dengan menggunakan system CAT. Hal ini merupakan penerapan dari layanan berbasis digital”, ungkap mantan Ketua Cabang GMKI Makassar ini.

Firmes juga mengungkapkan bahwa teknologi di Toraja bisa diterapkan dan tetap bisa dilaksanakan. Hal ini diperlukan pembangunan infrastruktur yang memadai dan kerjasama dengan elemen pemerintah pusat maupun daerah.

Alan Christian Singkali mengungkapkan hal yang sama. Situasi new normal nantinya akan menghadapkan manusia dengan perubahan-perubahan. “Bonus demografi akan datang dengan cara yang berbeda. Kelompok milenial harus menyambutnya dengan kesiapan maksimal. Beberapa sektor yang potensial digeluti oleh milenial antara lain UMKM dan sektor pertanian. Kedua sektor ini akan bagus prospeknya di masa new normal,” ungkapnya.

Alan menambahkan bahwa menjadi kreatif adalah pilihan satu-satunya. “Kita tidak bisa lagi bergantung dengan start-up unicorn semata. Kita harus menciptakan start-up skala lokal yang mampu bertahan dalam kondisi lockdown misalnya. Khususnya dalam memenuhi kebutuhan lokal sebuah kota atau desa,” pungkas salah satu Ketua DPP GAMKI ini.

Bagikan!!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *