JALAN MULUS JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA

by Jak Benin (Benteng Indonesia)

Diperkirakan pergantian Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahyanto (AAU 86) tinggal menunggu waktu. Kemungkinan pergantian Panglima yang telah menjabat sejak 8 Desember 2017 dilakukan setelah Covid-19 terkendali.

Ketiga Kepala Staf Angkatan (KSAD, KSAL dan KSAU) memiliki peluang yang sama, tapi tak serupa. Mengapa?

Ada beberapa alasan mengapa peluang KSAD lebih besar menjadi Panglima TNI:

Pertama, Andika Perkasa menjadi Jenderal TNI sejak 22 Nov 2018 ketika dilantik sebagai KSAD, sehingga bintang empat paling senior.

Kedua, Andika Perkasa alumni 87 sehingga paling senior diantara Kepala Staf lainnya (angkatan 88).

Ketiga, KSAD telah memperlihatkan kepiawaiannya dalam mereformasi birokrasi di lingkungan TNI AD dengan sangat mulus.

Keempat, penugasan dan karier Jenderal TNI Andika Perkasa sangat beragam dan mumpuni. Dimulai dari penugasan di Kopassus, Kostrad, Kodiklat, Koter, Gumil, dan Staf dengan sederet titel akademik yang luar biasa.

Kelima, kinerja dan loyalitas KSAD nyata tanpa basa-basi, dan tidak diragukan lagi.

Keenam, menantu Jenderal TNI Prof. Dr. A. M. Hendropriyono, SH., MH, mantan Kepala BIN, guru besar intelijen pertama, tokoh intelijen, dan nasionalis sejati sehingga tidak mungkin mengkhianati Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.

Ketujuh, tiga pimpinan tertinggi satuan pemegang senjata saat ini dipimpin jenderal angkatan 88. Jenderal Pol Idham Azis sebagai Kapolri, Laksamana TNI Yudo Margono sebagai KSAL dan KSAU dijabat Marsekal TNI Fadjar Prasetyo. Senioritas memiliki efek psikologis yang sangat kuat.

Meskipun Pasal 13 ayat (4) UU TNI No 34/2004 mengatakan pimpinan TNI dapat dijabat secara bergantian, namun pengangkatan dan pemberhentian Panglima TNI dilakukan berdasarkan kepentingan organisasi TNI (ayat 3). Kata “dapat” berarti tidak harus, plus tidak ada sanksi bila tidak ditaati.

Memang KSAL berpeluang menjadi Panglima TNI bila mengikuti irama bergiliran. Namun sejarah membuktikan estafet pergantian kepemimpinan TNI tidak selalu bergiliran. Jabatan Jenderal TNI Muldoko selaku Panglima TNI diserahterimakan kepada Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (KSAD). Presiden selaku Panglima tertinggi TNI yang menentukannya sesuai kepentingan organisasi TNI (Pasal 13 ayat 10 UU TNI).

Lobi-lobi politik akan dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap TNI. Sebagai organisasi terkuat, tersolid, pemegang kekuatan bersenjata, menjadikan TNI bagaikan gadis cantik molek incaran “perambah kekuasaan dan kesempatan”.

Presiden selaku Panglima tertinggi TNI berkewajiban menjaga dan mengawal reformasi TNI menuju terbentuknya militer yang kuat dan tangguh. Apalagi sejalan dengan visi dan misi Presiden RI Jokowi.

Keinginan Presiden untuk memperbaharui alat persenjataan TNI lebih modern harus dikawal. Ratusan triliun anggaran TNI per tahun menjadi incaran empuk pengusaha abu-abu. Apalagi spesifikasi persenjataan TNI bersifat rahasia sehingga harga tidak dapat dibaca sesuai katalog. Rawan diselewengkan jika iman tak kuat.

Selama ini KSAD telah menunjukkan integritasnya sebagai pemimpin yang tangguh. Sehingga peluang KSAD dengan sederet gelar akademis, karier dan prestasi hebat menjadi Panglima TNI tinggal menunggu waktu.

Semoga!

Salam Waras

Bagikan!!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *